Sabtu, 20 Oktober 2012

masalah kemahasiswaan dalam berorganisasi

Rasa Aman Dalam Organisasi Kemahasiswaan

OPINI | 18 December 2011 | 18:04 Dibaca: 186   Komentar: 0   1 bermanfaat
Piramida Kebutuhan Maslow
Piramida Kebutuhan Maslow
Dalam sebuah seminar yang Saya ikuti tentang pengembangan keterampilan mahasiswa yang diadakan pada hari sabtu 17 Desember 2011. Salah satu pembicara adalah pejabat tinggi rektorat salah satu perguruan tinggi seni. Pembicara yang dimaksud menjadikan tema organisasi kemahasiswaan sebagai pokok pembahasan yang dibedahnya.
Pembicaraan mengenai organisasi mahasiswa dan unit kegiatan mahasiswa sore itu menjadi berkepanjangan dan melebar ke sentimen antar organisasi ketika sang pembicara seolah secara tidak langsung mengadu argumen antara satu pihak organisasi dengan organisasi lain, hal itu terjadi sebab sang pembicara menjabarkan pembahasan mengenai organisasi mahasiswanya melalui sebuah esai (fiktif) tentang sebuah perguruan tinggi seni (fiktif) yang didalamnya terjadi pertentangan pendapat antara Badan Eksekutif Mahasiswa (fiktif) dengan sebuah Unit Kegiatan mahasiswa (fiktif).
Meski esai yang dijabarkan pembicara itu fiktif namun sesungguhnya itu adalah representasi kondisi sebenarnya dari perguruan tinggi seni yang nyata. Hal yang mana menimbulkan gejolak perdebatan di seminar sore itu. Dengan perdebatan yang makin melebar, Saya memutuskan meninggalkan seminar, bukan karena Saya adalah simpatisan Badan Eksekutif Mahasiswa atau Unit Kegiatan Mahasiswa yang diperdebatkan sore itu. Namun lebih karena sejak awal sang pembicara menyatakan tema Organisasi Mahasiswa, Saya sudah menjadi seorang yang apatis dalam tema itu.
Dalam menjabarkan tema organisasi kemahasiswaan sore itu, sang Pembicara menggunakan pendekatan “Aktualisasi Diri” yang pernah dijabarkan Abraham Maslow. Dikatakan bahwa aktualisasi diri adalah sebuah proses dimana manusia ingin diakui, dan konsep ke-aku-an inilah yang menyebabkan organisasi mahasiswa eksis, sebab mahasiswa ingin diakui sebagai calon intelek. Maka organisasi kemahasiswaan adalah legalisasi aktualisasi diri tersebut di kampus dimana mahasiswa dapat menjabarkan proses ke-aku-an nya secara legal.
Hal inilah yang membuat Saya jengah, konsep organisasi mahasiswa sebagai ajang aktualisasi diri mahasiswa mungkin dapat dibenarkan, namun bila Sang pembicara melandaskan pembahasan organisasi kemahasiswaannya pada teori “Aktualisasi Diri” Maslow, seharusnya dapat dilihat bahwa Aktualisasi diri tersebut adalah bagian dari Hirarki Kebutuhan sebagaimana yang digambarkan Maslow dalam “Piramida Kebutuhan Maslow.”
Pada dasarnya dalam hirarki kebutuhan Maslow tersebut terdapat 5 poin yang semuanya berkaitan, dan bertingkat. Poin paling atas tidak akan dapat dicapai andai poin paling bawah belum tercapai. Aktualisasi diri berada di puncak teratas piramida, sedang urutan dasar adalah kebutuhan pokok seperti makan dll. Urutan kedua adalah Rasa aman diri. Jadi kesimpulan dari piramida itu, manusia tidak akan mampu mengaktualisasi diri (berpikir kreatif) seperti puncak kelima jika Dia belum mampu memenuhi kebutuhan dibawahnya. Orang kelaparan tidak akan berpikir berkarya dan unjuk gigi.
Dengan konsep keterkaitan kebutuhan dalam hirarki Maslow tadilah Saya menyimpulkan pembahasan sang pembicara tentang organisasi kemahasiswan sebagai ajang Aktualisasi diri mahasiswa sepertinya hanya membuang waktu. Sebab sesungguhnya Organisasi kemahasiswaan (Aktualisasi diri) baru dapat dicapai jika kebutuhan dibawahnya sudah tercapai, di Indonesia (juga di salah satu perguruan tinggi seni Indonesia) ini, Barangkali semua mahasiswanya sudah bisa makan, artinya kebutuhan nomor satu sudah tercapai. Namun ketika naik ke tingkat 2, apakah rasa aman sudah dirasakan mahasiswa? Jika jawabannya ya, maka bolehlah mahasiswa naik ke tingkat kebutuhan berikutnya hingga akhirnya mampu mengaktualisasi diri dalam organisasi mahasiswa di tingkat tertinggi. Namun faktanya rasa aman belum dirasakan mahasiswa dalam hal berorganisasi, berbagai ketakutan masih membayangi mahasiswa yang hendak kritis sampaikan pendapat. Diantaranya takut peraturan kampus, takut pidana, takut di Drop-out (DO) kampus, dll.
Padahal jelas dalam organisasi kemahasiswaan harus ada pendapat-pendapat murni dari mahasiswa, pendapat dan ide yang tidak terpengaruh pihak lain, pendapat yang menjadi Student learning yang kelak berguna menjadikan mahasiswa pribadi yang mandiri dan mampu berpikir tanpa campur tangan pihak lain. Dengan berbagai ancaman kepada mahasiswa terhadap mahasiswa, tidak tercapai yang namanya rasa aman. Tanpa rasa aman pada diri mahasiswa, tentu mustahil dapat mengaktualisasi diri dalam organisasi kemahasiswaan.
Tidak ada rasa aman itu terbukti dengan diberangusnya berbagai kegiatan kemahasiswaan di salah satu perguruan tinggi negeri di Yogyakarta ketika mahasiswa protes dan menyampaikan pendapatnya akan beberapa kebijakan kampus yang tidak memihak rakyat, tercatat pula beberapa aktivis mahasiswa dipidanakan karena aktivitasnya memprotes kebijakan kampus yang dianggap kurang adil. Bahkan ancaman mahasiswa yang protes pada kampus langsung di DO juga ada di beberapa perguruan tinggi. Kemudian salah satu bukti belum adanya rasa aman bagi mahasiswa dalam menyampaikan pendapat itu adalah dengan tulisan ini, dimana Saya sebagai penulis belum berani secara frontal menyebut pihak atau nama tertentu dan harus disamarkan.
Itulah kenapa menurut Saya pembahasan mengenai organisasi kemahasiswaan sebagai ajang aktualisasi diri mahasiswa, dari sang pembicara di seminar sore itu hanya membuang waktu saja. Sebab sebelum sampai pada tataran aktualisasi diri, ada baiknya Kita membahas terlebih dahulu rasa aman harus ditimbulkan dalam proses organisasi mahasiswa. Agar mahasiswa berani ungkapkan pendapatnya tanpa takut di-DO atau dipidanakan. Agar organisasi kemahasiswaan benar-benar menjadi sebuah ajang Student learning, bukan sekedar organisasi yang harus ada sebagai syarat. Menuju aktualisasi diri di tingkat 5 hirarki kebutuhan Maslow dapat dilakukan jika kebutuhan rasa aman dibawahnya dapat tercapai, pertanyaannya adalah. maukah pihak perguruan tinggi memberikan rasa aman itu pada mahasiswa? Sebab terkadang birokrasi enggan memberi rasa aman tersebut, dan selalu menutup diri agar sistem Mereka tak terjamah mahasiswa.

0 komentar:

Poskan Komentar